Bangunan Pompes Al-Khoziny di Sidoarjo Ambruk, 79 Korban Dievakuasi, 1 Meninggal Dunia
Kronologi Kejadian Ambruknya Bangunan Pompes Al-Khoziny
Peristiwa memilukan terjadi di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Bangunan Pompes Al-Khoziny di Sidoarjo ambruk, 79 korban dievakuasi, 1 meninggal dunia akibat insiden tersebut. Kejadian ini sontak membuat masyarakat sekitar panik dan berduka, mengingat lokasi pesantren yang dikenal cukup ramai aktivitas santri setiap harinya.
Menurut keterangan saksi mata, peristiwa ambruknya bangunan terjadi secara tiba-tiba saat santri sedang beraktivitas di dalam gedung. Beberapa bagian bangunan yang sudah mengalami keretakan sebelumnya tidak sempat ditangani hingga akhirnya runtuh. Suasana mendadak kacau ketika para santri berusaha menyelamatkan diri.
Evakuasi Cepat dari Tim Gabungan
Begitu mendapat laporan, tim gabungan dari BPBD, TNI, Polri, hingga relawan segera diterjunkan ke lokasi. Proses evakuasi berlangsung dramatis karena harus menyingkirkan reruntuhan bangunan untuk menyelamatkan para korban.
Dalam upaya penyelamatan tersebut, tercatat 79 korban berhasil dievakuasi, meski satu orang dinyatakan meninggal dunia akibat tertimpa material bangunan. Korban lainnya mengalami luka ringan hingga luka serius dan langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Penyebab Ambruknya Bangunan Pompes Al-Khoziny
Hingga saat ini, penyebab pasti bangunan Pompes Al-Khoziny di Sidoarjo ambruk masih dalam penyelidikan. Namun, dugaan sementara mengarah pada faktor usia bangunan yang sudah tua dan kurangnya perawatan struktur.
Beberapa santri mengaku sudah melihat adanya retakan di dinding dan atap sebelum peristiwa terjadi. Hal ini menguatkan analisis awal bahwa konstruksi bangunan tidak lagi kuat menahan beban. Selain itu, faktor cuaca ekstrem berupa hujan deras beberapa hari terakhir juga diduga memperparah kondisi bangunan.
Faktor Konstruksi dan Standar Bangunan
Ahli konstruksi menilai bahwa bangunan pondok pesantren seharusnya mendapatkan perawatan rutin, terutama jika digunakan untuk menampung banyak orang. Bila standar konstruksi tidak sesuai, risiko ambruk seperti ini bisa terjadi kapan saja.
Pemerintah daerah pun menegaskan pentingnya inspeksi bangunan pendidikan maupun keagamaan, agar tragedi serupa tidak terulang.
Dampak Sosial dan Psikologis bagi Santri
Insiden bangunan Pompes Al-Khoziny di Sidoarjo ambruk, 79 korban dievakuasi, 1 meninggal dunia tentu membawa dampak besar, bukan hanya secara fisik tetapi juga psikologis. Banyak santri yang masih trauma atas kejadian tersebut.
Beberapa santri mengaku ketakutan untuk kembali ke gedung yang masih berdiri karena khawatir akan terjadi runtuh susulan. Para orang tua pun merasa cemas dengan keselamatan anak-anak mereka yang mondok di pesantren tersebut.
Dukungan dari Pemerintah dan Masyarakat
Sebagai bentuk tanggung jawab, pemerintah daerah bersama lembaga sosial memberikan bantuan darurat berupa logistik, obat-obatan, dan tempat tinggal sementara bagi para korban. Selain itu, dukungan psikologis juga mulai diberikan kepada santri agar trauma mereka bisa perlahan teratasi.
Masyarakat sekitar pun turut memberikan simpati, dengan menggalang dana bantuan untuk perbaikan fasilitas pesantren. Solidaritas sosial ini menjadi bukti nyata bahwa tragedi dapat menyatukan kepedulian antarwarga.
Tindakan Pencegahan agar Tragedi Tidak Terulang
Kejadian ini menjadi pelajaran penting bahwa keselamatan bangunan harus menjadi prioritas utama. Ambruknya bangunan Pompes Al-Khoziny di Sidoarjo memperlihatkan bahwa lemahnya pengawasan dan perawatan gedung bisa berakibat fatal.
Beberapa langkah pencegahan yang perlu dilakukan antara lain:
1. Pemeriksaan Rutin Bangunan
Bangunan yang digunakan untuk menampung banyak orang, seperti sekolah, pesantren, dan tempat ibadah, wajib menjalani pemeriksaan struktur setiap beberapa tahun sekali.
2. Perawatan Berkala
Kerusakan kecil seperti retakan, kebocoran atap, atau keropos kayu harus segera diperbaiki sebelum menjadi masalah besar.
3. Standar Konstruksi yang Ketat
Pembangunan gedung baru harus mengikuti standar konstruksi nasional, dengan material berkualitas dan desain yang tahan terhadap gempa maupun cuaca ekstrem.
4. Edukasi bagi Pengelola Pesantren
Pengurus pesantren perlu mendapatkan edukasi terkait perawatan gedung, agar mereka lebih waspada dan mampu mendeteksi kerusakan sejak dini.
Kesimpulan
Tragedi bangunan Pompes Al-Khoziny di Sidoarjo ambruk, 79 korban dievakuasi, 1 meninggal dunia menjadi peringatan keras bagi semua pihak. Keselamatan santri dan masyarakat harus menjadi prioritas dengan memastikan bangunan yang digunakan layak huni serta terawat dengan baik.
Pemerintah, pengelola pesantren, hingga masyarakat perlu bergandeng tangan untuk memastikan insiden serupa tidak terjadi lagi. Semoga korban yang meninggal mendapatkan tempat terbaik, sementara korban luka dapat segera pulih, dan para santri bisa kembali beraktivitas dengan aman.
