Kisah ini viral setelah sebuah video singkat beredar di platform media sosial. Dalam video tersebut, tampak seorang nenek hendak membeli roti di sebuah toko kecil, namun transaksi ditolak karena pihak penjual hanya menerima pembayaran non-tunai menggunakan QRIS.
Kronologi Seorang Nenek Gak Dilayani Beli Roti Pake Uang Karena Wajib QRIS
Peristiwa seorang nenek gak dilayani beli roti pake uang karena wajib QRIS terjadi di sebuah wilayah perkotaan yang dikenal sudah cukup maju dalam penerapan transaksi digital.
Nenek Datang Membeli Roti dengan Uang Tunai
Menurut informasi yang beredar, nenek tersebut datang dengan niat sederhana: membeli roti menggunakan uang tunai pecahan kecil. Ia tampak membawa uang kertas yang sudah lusuh, khas uang yang sering disimpan lansia.
Namun niat sederhana itu berubah menjadi pengalaman pahit ketika penjaga toko menolak uang tersebut.
Penolakan Karena Sistem Pembayaran Wajib QRIS
Penjual menjelaskan bahwa toko hanya melayani pembayaran menggunakan QRIS. Tanpa ponsel pintar dan tanpa pemahaman tentang aplikasi pembayaran digital, sang nenek kebingungan.
Video memperlihatkan sang nenek terdiam, lalu perlahan pergi tanpa membawa roti yang ingin dibelinya.
Video Viral Picu Amarah Warganet
Tak butuh waktu lama, video seorang nenek gak dilayani beli roti pake uang karena wajib QRIS langsung menyebar luas.
Warganet Mengecam Penjual
Banyak warganet mengecam sikap penjual yang dianggap tidak memiliki empati.
Komentar seperti:
“Kasihan neneknya, beli roti aja dipersulit.”
“Digitalisasi itu penting, tapi jangan hilangkan kemanusiaan.”
membanjiri kolom komentar.
Simpati Mengalir untuk Sang Nenek
Sebagian netizen bahkan menyatakan kesediaan membantu sang nenek. Ada pula yang mengajak untuk mencari lokasi nenek tersebut agar bisa diberi bantuan secara langsung.
Digitalisasi Pembayaran dan Tantangan Bagi Lansia
Kasus seorang nenek gak dilayani beli roti pake uang karena wajib QRIS membuka mata banyak pihak bahwa transformasi digital tidak selalu berjalan mulus.
QRIS dan Tujuan Awal Penerapannya
QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) diluncurkan untuk memudahkan transaksi, meningkatkan transparansi, serta mendorong inklusi keuangan.
Namun dalam praktiknya, tidak semua masyarakat siap menggunakannya.
Lansia Masih Bergantung pada Uang Tunai
Bagi sebagian besar lansia:
Tidak memiliki smartphone
Tidak terbiasa dengan aplikasi digital
Kesulitan memahami teknologi baru
Uang tunai masih menjadi alat transaksi utama yang paling mereka pahami dan percayai.
Apakah Menolak Uang Tunai Melanggar Aturan?
Kasus seorang nenek gak dilayani beli roti pake uang karena wajib QRIS juga menimbulkan pertanyaan hukum.
Uang Tunai Masih Alat Pembayaran Sah
Menurut regulasi Bank Indonesia, rupiah dalam bentuk uang tunai adalah alat pembayaran yang sah dan wajib diterima di wilayah NKRI, kecuali dalam kondisi tertentu yang diatur undang-undang.
Menolak uang tunai secara mutlak dapat menimbulkan persoalan hukum.
QRIS Bersifat Opsional, Bukan Wajib Mutlak
QRIS bertujuan memudahkan, bukan menggantikan sepenuhnya uang tunai. Oleh karena itu, memaksa konsumen hanya menggunakan QRIS dinilai tidak tepat, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia.
Sudut Pandang Penjual: Alasan Keamanan dan Efisiensi
Meski menuai kecaman, sebagian pihak mencoba memahami alasan penjual.
Menghindari Uang Palsu dan Kesalahan Kembalian
Beberapa pedagang memilih QRIS untuk:
Menghindari risiko uang palsu
Mengurangi kesalahan kembalian
Mencatat transaksi secara otomatis
Namun alasan ini dinilai tidak cukup kuat untuk menolak pembeli lansia yang hanya ingin membeli roti.
Kemanusiaan di Atas Teknologi
Kasus seorang nenek gak dilayani beli roti pake uang karena wajib QRIS menegaskan bahwa teknologi seharusnya melayani manusia, bukan sebaliknya.
Empati Sebagai Nilai Utama dalam Berjualan
Dalam budaya masyarakat Indonesia, empati dan gotong royong menjadi nilai utama. Menolak pembeli lansia hanya karena metode pembayaran dinilai bertentangan dengan nilai tersebut.
Fleksibilitas dalam Transaksi Sangat Dibutuhkan
Banyak pihak menilai solusi terbaik adalah fleksibilitas:
QRIS tetap tersedia
Uang tunai tetap diterima
Pembeli tidak dipersulit
Respons Publik dan Harapan ke Depan
Peristiwa seorang nenek gak dilayani beli roti pake uang karena wajib QRIS diharapkan menjadi pelajaran penting bagi semua pihak.
Edukasi Digital Harus Inklusif
Digitalisasi tidak boleh meninggalkan siapa pun. Edukasi tentang QRIS harus dilakukan secara bertahap dan ramah, terutama bagi lansia.
Peran Pemerintah dan Otoritas Terkait
Pemerintah dan Bank Indonesia diharapkan:
Memberi sosialisasi lebih luas
Menegaskan bahwa uang tunai tetap sah
Mengawasi penerapan QRIS di lapangan
Pelajaran Berharga dari Kisah Nenek dan Roti
Kisah seorang nenek gak dilayani beli roti pake uang karena wajib QRIS bukan sekadar cerita viral. Ini adalah cermin dari tantangan besar di era digital.
Teknologi Harus Memanusiakan Manusia
Kemajuan teknologi seharusnya mempermudah hidup, bukan membuat seseorang pulang dengan tangan kosong hanya karena tak memiliki ponsel pintar.
Jangan Biarkan Lansia Tertinggal
Lansia adalah bagian dari masyarakat yang harus dilindungi dan dihormati. Kebijakan apa pun, termasuk digitalisasi pembayaran, harus mempertimbangkan kondisi mereka.
Kesimpulan
Kasus seorang nenek gak dilayani beli roti pake uang karena wajib QRIS menyentuh hati banyak orang dan memicu refleksi bersama. Digitalisasi memang penting, tetapi nilai kemanusiaan jauh lebih utama.
Semoga kejadian ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap transaksi, ada manusia dengan cerita dan keterbatasannya masing-masing. Teknologi boleh maju, tetapi empati tidak boleh mundur.
