Pada Kamis malam, 13 November 2025 sekitar pukul 20.00 WIB, sebuah bencana alam mengerikan terjadi di Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap. Longsor besar melanda permukiman yang berada di Dusun Cibuyut dan Dusun Tarukahan, akibat hujan deras yang terus mengguyur kawasan tersebut.
Kepala Seksi Operasi dan Siaga Kantor SAR Cilacap, Priyo Prayudha Utama, menjelaskan bahwa tim SAR bersama aparat lokal langsung dikerahkan saat laporan tiba, melakukan asesmen awal dan merencanakan strategi evakuasi demi mengevakuasi korban yang tertimbun.
Dampak dan Korban Longsor
Korban Jiwa
Hingga laporan awal, tiga korban tewas telah ditemukan dalam peristiwa tragedi longsor di Desa Cibeunying. Dua jenazah, yaitu Julia Lestari (20 tahun) dan Maya (15 tahun), ditemukan pada malam kejadian, sementara jenazah ketiga, bernama Wahyuni (diperkirakan berusia 50-an), berhasil dievakuasi keesokan paginya menggunakan alat berat.
Setelah dievakuasi, para korban dimakamkan di TPU Tarukahan, berdekatan satu sama lain. Ma’tuf, tokoh masyarakat setempat, menyebut bahwa Wahyuni adalah ibu dari Maya, dan Julia adalah keponakannya.
Korban Hilang dan Tertimbun
Berdasarkan informasi dari BPBD Cilacap, setidaknya 20 orang masih dalam pencarian setelah longsor.
Rincian korban hilang:
-
6 orang dari Dusun Tarukahan: Nina, Fani, Fatin, Lilis (Ibu), Danu (anak Lilis), dan balita (anak Lilis)14 orang dari Dusun Cibuyut: antara lain Rastum, Rahma, Aca, Cahyanto, Kasri, Zahra, Nilna, Asmanto, Isna dan anak-anaknya, serta Dani dan keluarganya.
Penyebab dan Tanda Sebelum Longsor
Menurut Kepala Desa Cibeunying, Lili Warli, pergerakan tanah sebenarnya sudah menunjukkan indikasi sejak dua hari sebelum bencana. Intensitas hujan yang tinggi membuat kondisi tanah jenuh, dan jalan di perbatasan Dusun Cibuyut–Nagari mulai ambles secara perlahan setiap hari.
Menurut penuturan Lili, meski peringatan sudah diberikan untuk sebagian warga, sebagian lainnya dianggap masih relatif aman sehingga belum sempat diungsikan.
Proses Evakuasi dan Tantangan Lapangan
Evakuasi korban longsor di Desa Cibeunying berjalan sulit. Berikut beberapa tantangan dan upaya penanganan:
-
Medan Sulit & Tanah Labil
Tanah di lokasi masih sangat labil karena jenuh air, sehingga potensi longsor susulan sangat tinggi. Karena itu, operasi SAR dilakukan dengan sangat hati-hati untuk menghindari risiko bagi petugas. -
Alat Berat & Anjing Pelacak
Untuk membantu proses evakuasi, tim SAR menggunakan alat berat untuk mengangkat material longsor. Selain itu, 9 anjing pelacak dari Kantor SAR Cilacap dan Polda Jawa Tengah dikerahkan untuk mencari korban yang tertimbun. -
Operasi Berhenti Sementara Karena Hujan
Pada Jumat sore, operasi pencarian sempat dihentikan karena hujan kembali turun sejak pukul 15.15 WIB, yang membuat kondisi tanah semakin berbahaya. Kepala Basarnas Cilacap, M. Abdullah, menegaskan bahwa keselamatan tim SAR menjadi prioritas, sehingga pencarian dilanjutkan saat cuaca memungkinkan.
Respons Pemerintah dan Komunitas
Pernyataan Resmi & Data BNPB
Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) telah merilis data terkini: terdapat 47 warga terdampak, dengan 3 orang meninggal, 23 selamat, dan 21 orang masih hilang.
Operasi pencarian terus berjalan selama 24 jam dengan koordinasi lintas instansi, meskipun kondisi alam yang sulit memperlambat proses.
Ajakan Kewaspadaan dari Gubernur
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, meminta masyarakat, khususnya yang tinggal di wilayah rawan longsor atau pegunungan, untuk meningkatkan kewaspadaan. Ia menekankan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana, terutama di musim hujan.
Bantuan dari Komunitas Lokal
PRNU (Pergerakan NU) Cibeunying menggerakkan aksi donasi kemanusiaan untuk membantu korban dan keluarga yang terdampak.
Pelajaran dan Implikasi Mitigasi
Pentingnya Peringatan Dini
Tanda-tanda pergerakan tanah sebaiknya direspons dengan serius oleh warga dan aparat desa. Sebelum bencana terjadi, indikasi seperti amblesnya jalan sudah muncul, yang menjadi sinyal bahaya.
Manfaat Mitigasi Ilmiah
Para ahli geologi dan mitigasi bencana menekankan pentingnya pemahaman ilmiah tentang tanah longsor: jenis tanah, kemiringan lereng, dan jenuh air harus dipetakan dan diamati agar risiko bisa ditekan.
Koordinasi SAR & Kesiapsiagaan
Sinergi antara SAR, BNPB, aparat lokal, dan komunitas sangat krusial. Aksi cepat dengan alat berat dan tim pelacak sangat membantu, tetapi harus diiringi dengan pendekatan mitigasi jangka panjang agar tragedi serupa bisa diminimalisir di masa depan.
Kesimpulan
Tragedi longsor di Desa Cibeunying Cilacap telah menimbulkan duka mendalam: puluhan orang tertimbun, rumah-rumah hancur, dan korban jiwa sudah tercatat. Proses evakuasi sulit karena kondisi alam yang labil, namun tim SAR tetap bekerja maksimal dengan dukungan alat berat dan anjing pelacak. Risiko bencana seperti ini mengingatkan kembali pentingnya mitigasi bencana, peringatan dini, dan kewaspadaan terus-menerus, terutama di daerah rawan longsor. Dukungan dari pemerintah, lembaga kemanusiaan, dan komunitas lokal sangat dibutuhkan untuk pemulihan dan pencegahan kedepannya.
.webp)